<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2503525351743944375</id><updated>2012-02-16T00:08:07.277-08:00</updated><title type='text'>THE INSPIRATION FOR MY SELF</title><subtitle type='html'>FORUM INSPIRASI PRIBADI</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.cocomorales.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.cocomorales.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>manusia pemberontak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15082374208027821443</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TQhGqQNiP-s/S0qF5g9dMKI/AAAAAAAAADc/KDEfGEs0LyY/S220/Picture+002.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2503525351743944375.post-5660606886058189704</id><published>2008-05-20T18:31:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T18:32:07.752-07:00</updated><title type='text'>SATU ABAD KEBANGKITAN NASIONAL</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Perjalanan panjang bengsa Indonesia dalam proses menuju peradaban bangsa yang unggul serta cita-cita untuk kesejahteraan masyarakat merupakan satu imaji dan impian seluruh rakyat Indonesia. Sejarah telah menunjukkan bukti-bukti objektif bahwa bangsa ini pernah menjadi satu kekuatan yang maha dahsyat pada masanya, Nusantara adalah salah satu kepualauan yang menjadi pusat perdagangan dan transaksi ekonomi pasar ter sibuk di dunia. Imperium Majapahit menjadi bukti nyata bahwa kesataun bangsa pernah terwujud, Gajah Mada dengan sumpah palapanya telah melakukan kerja-kerja peradaban untuk tetap memersatukan kepualauan nusantara menjadi satu.Namun sayangnnya kekuatan yang pernah terbangun oleh para leluhur bangsa ini harus kandas dengan semakin terperosoknya pada kekalahan total pada seluruh aspek. Jalur perdagangan Nusantara sebagai lintasan ekonomi pasar dunia harus goncang dan porak poranda dengan kedatangan orang-orang Portugis yang dikomandoi oleh d'Albuqueque yang menetap di Bandar Malaka (1511) dan orang-orang Spanyol yang dipimpin oleh Magalhaes tiba di Filipina (1521) dengan membuka jalur trans-Pasifik (Nusa Jawa ; Denys Lombart). Tidak bisa dipungkiri bahwa awal mula ketretarikan bangsa ini adalah semakin kuatnya pengaruh dan hegemoni negeri asing untuk mengeksploitasi sumber-sumber kekayaan bangsa ini, dengan makin banyaknya lalulintas perdagangan ekonomi untuk mendapatkan rempah-rempah dan di bawa kenegeri utara sana serta membuka Bandar-Bandar untuk menetap.Secara nyata bangsa ini mengalami kekalahan secara ekonomi-politik semenjak keberadaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) atau "Serikat Perseroan Hindia Timur" yang didirikan oleh Belanda pada tahun 1602. Semenjak itulah bangsa kita mulai terkunci didarat (land locked) dan bukan lagi menjadi bangsa petualang. Jika ada satu tembang yang selalu diajarkan di sekolah-sekolah sejak kita kecil bahwa "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" membuktikan bahwa sebenarnya bangsa kita adalah bangsa maritim dengan mengendalakn kekuatan kelautan dan pelayaran serta semenjak awal para leluhur bangsa ini telah memilki imaji untuk membangun peradaban tinggi dengan terbukanya pada budaya dan pengetahuan bangsa lain.Kekalahan secara ekonomi dan politik itulah yang sedikit demi sedikit memporak - porandakan bangunan dasar bangsa kita yang pernah jaya, bahkan hingga membentuk mentalitas terjajah (Marsos-Inlander mentality) hingga detik ini serta adanya ketimpangan structural (dalam ; Negara Anarhhi). Belanda yang begitu lamanya melakukan Kolonialisme-Imperealisme terhadap bangsa ini secara nyata sedikit banyak telah mempengaruhi aspek-aspek dalam kehidupan kita sampai detik ini. Begitu juga adanya proses eksploitai besar-besaran terhadap Sumber Daya Alam (SDA) telah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu oleh bangsa lain di negeri tercinta ini. Selain itu ekspolitasi tenaga manusia bangsa Indonesia menjadi satu komoditas demi kepentingan dan kemakmuran bangsa Belanda.Disisi lain eksploitasi, penindasan, dehumanisasi pembodohan yang dilakuakn oleh bangsa lain terhadap bangsa hingga menimbulkan "kemelaratan total" terhadap rakyat Indonesia, ternyata telah mampu menggugah rasa nasionalisme dan kehendak untuk merdeka secara total. Selain perubahan kebijakan yang dikeluarkan oleh negeri Belanda pasca kemenangan kaum liberal di parlemen dengan menyatakan Hutang Budi kepada negeri terjajah (Hindia Belanda) yang digagas oleh Vandeventer dan di resmikan secara nyata oleh Ratu Wilhemina pada tahun 1901. Sejak itulah kebijakan politik etik mulai diterapkan di negrei Hindia Belanda "Irigasi, Emigrasi Dan Edukasi" sejak itulah para elit pribumi mulai mengenyam dunia pendidikan modern ala Barat. Walaupun pada akhirnya kaum pribumi didikan barat itulah yang nantinya mampu untuk mengkrislalisasikan gagasan kebangsaan dan semangat nasionalisme hingga mencapai puncak kemerdekaan Indonesia.Dalam sejarah kebangsaan ini pemuda dan mahasiswa Indonesia selalu menjadi motor penggerak sejarah yang nyata. Atas spirit dan idealitasnya perubahan demi perubahan tidak bisa begitu saja mengabaikan peran nyata pemuda dan mahasiswa sebagai avant garde. Kejernihan dalam membaca realitas objektif dan dorongan untuk tetap berpihak dan menjadi media suara masyarakat kecil yang dibisukan oleh penguasa selalu saja signifikansi peran pemuda menjadi penting.Perjauangan awal untuk kelaur dari kolonialisme-imprealisme Belanda dengan melihat realitas ketrtindasan, eksploitasi dan kesengsaraan rakyat Indonesia menjadi titik pijak awal para pemuda untuk menjujnung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan serta menjadikan negeri Indonesia merdeka secara nyata dari cengkaraman negeri Belanda. Klub-klub diskusi yang diklakukan oleh mahasiswa STOVIA untuk merefleksikan dan memikirkan dasib bangsa yang dijajah namun samasekali tidak memilki daya kekuatan untuk bangkit dalam satu persatuan yang kokoh dan utuh. Maka para mahasiswa seperti Goenawan, Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman melakuakan konsolidasi secara nyata demi satu cita-cita besar kesatuan dan persatuan bangsa untuk keluar dari penjajahan selama ratusan tahun dan bertekad untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.Akumulasi dari pembacaan objektif atas kondisi bangsa akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908 terbentuklah organisasi Budi Utomo sebagai benih nasionalisme. Yang pada akhirnaya melahirkan Sumpah pemuda pada tahum 1928 dan mendaparkan momentumnya untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak itulah bangsa Indonesia merdeka walaupaun masih begitu banyak perjauangan revolusi yang harus dilakukan pasca pembacaan proklamasi Republik Indonesia oleh Soekarno-Hatta atas nama rakyat Indonesia.Setelah setengah abad bangsa ini mengenyam kemerdekaan pada kenyataannya ternyata belum seperti cita-cita yang diharapkan oleh Founding Fathers bangsa ini. Ksejahteraan rakyat, kemajuan peradan, kedamaian dalam bernegara dan rasa bangga menjadi bangsa Indonesia belum sepenuhnya terwujud. Justru yang aterjadi pada era trasisi demokrasi pasca penumbangan rezim otoriter – birkrokratik Orde Baru oleh mahasiswa dan seluruh elemen masyarakarat menjadi satu tantangan terberat bangsa ini untuk mewujudkan demokrasi yang substansial dan membawa pada keesejahteraan masyarakat.Krisis ekonomi yang telah memporakp-porandakan bangsa ini pada tahun 1997 ternyata berimlikasi pada krisis multidimensional. Ketidak saling percayaan, saling menjatuhkan, konflik yang mengatasnamakan suku dan ras, ketidak solidan pemimpin inti nasional dalam membangun peradaban bangsa Indonesia, terjadinya erosi nasionalisme, keinginan beberapa daerah untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah satu kenyataan yang tidak terhindarkan dan harus segera di antisisipasi untuk tetap mempartahankan keutuhan bangsa yang diamanatkan oleh pendahulu bangsa ini.Masa transisi memang menjadi titik penentuan masadepan bangsa, pasca tumbangnya rezim otoriter - birokratik Orde Baru dan bergulirnya arus tuntutan seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjalankan roda kenegaraan sercara demokratis menjadi perjaunagan yang tiada henti. Bangsa kita pada saat ini (era transisi demokrasi) memang menjadi taruhan masadepan keberlangsungan kedepan bangsa Indonesia. Kemungkinan yang terjadi pada era transisi demokrasi adalah terwujudnya demokratisasi yang sesungguhnya dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia itulah yang menjadi cita-cita besar seluruh rakyat Indonesia atau justru akan kembali pada otoriterian yang dilakukan oleh Negara, sebagaimana yang Max Weber ungkapkan bahwa Negara memeilki otoritas untuk melakukan tindakan represif dengan apparatus yang dimiliki kepada masyarakat, dan yang terakhir pada era Transisi Demokrasi justru akan terjadi keterpecahan Negara bangsa.Disisi lain tantangan yang nyata pada era sekarang ini adalah terjadinya erosi nasionalisme yang melanda pada semua level. Terbukti dengan makin tidak merasa bangga menjadi warga Negara Indonesia, bahkan yang lebih menakutkan untuk keberlangsungan Negara Indonesia di masadepan adalah dengan begitu banyaknya produk hukum dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang tidak berpihak kepada masyarakat lapisan bawah namun justru pada para agen kapitalisme global (kororasi). Kebijakan untuk melekukan privatisasi, deregulasi dan liberalisasi (baca ; neolib) yang justru merupakan kekayaan Negara demi untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia dan telah diamanatkan oleh UUD 1945.Akan dibawa kemenakah bangsa ini disaat kompetisi pada era globalisasi pasar. Kompetisi di era global terjadi dengan adanya pertaungan ekonomi politik lintasnegara semakin menguat, tapi disisilain bangsa kita justru sedang mengalami keterpurukan yang mendalam. Bukan menjadi keinginan kita semua disaat gaung demokrasi diidamkan tapi amuk masa dan anarkisme menjadi hal yang ngertren. Dan kebijakan Negara untuk menjual asset bangsa (baca ; IMF, WTO, World Bank) semakin menguat demi untuk kepentingan kelompok, golongan dan koorporasi global. Saatnya menyelamatkan bangsa secara bersama dengan penegasan kembali komitamen kebangsaan yang di ajarkan oleh faunding fathers kita.Harus dari manakah bangsa ini ditata, peran apakah yang bisa dilakuakn oleh kelompok pemuda dan mahasiswa untuk mewujudkan bangsa yang mulai dan berdaulat serta mampu membawa kepada kesejahteraan bangsa dan seluruh lapisan masyarakat kecil serta terkonsolidasinya elemen demokrasi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2503525351743944375-5660606886058189704?l=www.cocomorales.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.cocomorales.co.cc/feeds/5660606886058189704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2503525351743944375&amp;postID=5660606886058189704' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/5660606886058189704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/5660606886058189704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.cocomorales.co.cc/2008/05/satu-abad-kebangkitan-nasional.html' title='SATU ABAD KEBANGKITAN NASIONAL'/><author><name>manusia pemberontak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15082374208027821443</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TQhGqQNiP-s/S0qF5g9dMKI/AAAAAAAAADc/KDEfGEs0LyY/S220/Picture+002.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2503525351743944375.post-3107543715137277629</id><published>2008-04-11T10:06:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T17:41:58.656-07:00</updated><title type='text'>PERAN DAN FUNGSI MAHASISWA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perguruan tinggi merupakan salah satu instansi pendidikan formal yang memproyeksikan anak didiknya memiliki kemampuan handal dan profesional, yang dengan kondisinya akan mampu menghadapi berbagai fenomena yang akan datang sesuai dengan pekembangan zaman. Sehingga tidaklah heran ketika muncul asumsi bahwa perguruan tinggi adalah jantung kemajuan bangsa. Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa "terpanggil" sehingga terangsang untuk bergerak.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat adagium patriotik yang bakal membius semangat juang lebih radikal. Semisal, ungkapan "menentang ketidakadilan dan mengoreksi kepemimpinan yang terbukti korup dan gagal" lebih mengena dalam menggugah semangat juang agar lebih militan dan radikal. Mereka sedikit pun tak ragu dalam melaksanakan perjuangan melawan kekuatan tersebut. Pelbagai senjata ada di tangan mahasiswa dan bisa digunakan untuk mendukung dalam melawan kekuasaan yang ada agar perjuangan maupun pandangan-pandangan mereka dapat diterima. Senjata-senjata itu, antara lain seperti; petisi, unjuk rasa, boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa--jika dibandingkan dengan intelektual profesional-- lebih punya keahlian dalam manajemen sosial.&lt;br /&gt;Mahasiswa adalah salah satu elemen yang vital dan mempunyai peran yang penting dalam mengawal dan melakukan sebuah perubahan di setiap Negara. Peran dan tanggung jawab mahasiswa dalam melakukan kerja-kerja gerakan dalam sebuah perubahan tersebut menjadi suatu hal yang lumrah dalam garis sejarah sebuah bangsa. Apalagi dalam sejarah perubahan bangsa kita “Indonesia”. Dan mahasiswa bagian dari stuktur social yang tidak bias dipisahkan dari masyarakat, maka kita tidak heran apabila orang menyebutnya sebagai corong penyambung lidah rakyat, agent of change and Social control atau entah dengan sebutan apalagi kita memujinya.&lt;br /&gt;Tetapi mampukah kita mengemban amanah tersebut dan merealisasikan dalam kehidupan sosial? ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama. Tanggung jawab yang dipikulnya sangatlah berat, selain mahasiswa punya tanggung jawab akademik mahasiswa juga punya tanggung jawab sosial. Agar kita tidak hanya berdiri diatas menara gading yang hanya berkoar angkuh bahwa mahasiswa adalah jelmaan ratu adil yang sebagai juru selamat dari marginalisasi keserakahan dunia terhadap rakyat pinggiran. Dalam melihat realitas kebangsaan yang hari ini kita rasakan, kita sepatutnya tidak hanya berkutat dalam dinamika arus dalam, solusi pastinya mahasiswa harus membaur dan menyatu dengan masyarakat dalam mengentaskan beragam problematika kebangsaan dan bersama-sama seluruh elemen banga.&lt;br /&gt;Karena bagaimanapun juga antara mahasiswa dan masyarakat merupakan satu elemen sosial yang tak bisa dipisahkan. Mahasiswa adalah masyarakat terdidik yang harus bertanggungjawab atas realitas kebangsaan. Jika selama ini mereka hanya sadar akan tanggung jawab akademiknya maka mahasiswa sudah tercerabut dari akar rumputnya yaitu masyarakat. Dan kesadarannya pun adalah kesadaran naif.&lt;br /&gt;Sejarah Indonesia mencatat bahwa dalam setiap perubahan dan peristiwa-peristiwa besar yang menyangkut pkelangsungan bangsa ini, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dan pioneer yang mampu berperan aktif dalam setiap perubahan tersebut. Pasca Proklamasi 1945, mahasiswa harus berbenturan dengan kebijakan dan kondisi politik Indonesia dimasa kepemimpinan Soekarno. Tingginya suhu politik dan peran aktif parpol menjadikan gerakan mahasiswa tidak mampu berdiri sendiri secara independent. Germa identik dengan afiliasi politik parpol tertentu dan inilah yang menjadikan mandeg dan monotonnya germa pada saat itu. Walaupun pada akhirnya pada tahun 1966 pasca peristiwa G30 S/PKI tahun 1965 germa kembali menjadi palang awal pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.&lt;br /&gt;Tampilnya Orde baru pasca runtuhnya Orde Lama, bukannya mampu menghantarkan Indonesia kea rah yang lebih baik, tapi justru sebaliknya. Banyak sekali kecurangan-kecurangan politik dan tindakan-tindakan pembodohan yang dilakukan pemerintah Orba pada rakyat Indonesia pada saat itu. Pemaksaan dan penyeragaman serta kesewengan-wenangan pemerintah dalam menerapkan kebijakannya menjadikan pemerintahan Orba sebagai pemerintahan yang superior yang tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun. Demokrasi dikebiri, hak assi disederhanakan dan pembangunan (Developmentalisme) dijadikan alas an bagi penindasan.&lt;br /&gt;Maka kemudian, mahasiswa sebagai kaum intelektual terdidik dituntut untuk mampu memenuhi tiga tanggung jawab besar, yakni tanggung jawab  Intelektual, moral dan social. Dari tiga tanggung jawab inilah mungkin yang harus kita cermati dan sadari sehingga mahasiswa sebagai actor perubahan harus peka terhadap kondisi obyektif sebuah bangsa-negara sehingga nantinya mampu menjalankan peranan yang proporsional demi terwujudkannya perubahan yang menjadi cita-cita bangsa dan Negara.&lt;br /&gt;Hal serupa juga pernah dilakukan oleh sang revolusioner sejati baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Beliau juga mempunyai tanggug jawab kepada Allah sebagai makhluk-Nya untuk melakukan ibadah walau sudah ada jaminan masuk surga. Akan tetapi tanggung jawab terhadap masyarakat arab yang masih jahiliyah merupakan salah satu tugas beliau yang paling berat dalam memberantas kejahiliaan dan membawa mereka pada jalan yang benar. Dan ini merupakan manifestasi dari gerakan sosial beliau sebagai utusan dan Kholifah Allah di muka bumi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2503525351743944375-3107543715137277629?l=www.cocomorales.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.cocomorales.co.cc/feeds/3107543715137277629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2503525351743944375&amp;postID=3107543715137277629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/3107543715137277629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/3107543715137277629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.cocomorales.co.cc/2008/04/peran-dan-fungsi-mahasiswa-sebagai-agen.html' title='PERAN DAN FUNGSI MAHASISWA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN'/><author><name>manusia pemberontak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15082374208027821443</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TQhGqQNiP-s/S0qF5g9dMKI/AAAAAAAAADc/KDEfGEs0LyY/S220/Picture+002.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2503525351743944375.post-1458362501785337998</id><published>2008-04-06T06:31:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T17:42:27.918-07:00</updated><title type='text'>REALISASI DANA DPP PERLU DI KRITISI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konversi IAIN Sunan Kalijaga menjadi UIN Sunan kalijaga terbukti telah menciptakan berbagai kebijakan yang tidak memihak terhadap kepentingan mahasiswa, bahkan adanya kebijakan  yang mengarah kepada komersialisasi pendidikan. Kebijakan itu tidak lain adalah kewajiban membayar Dana Penunjang Pendidikan (DPP) sebesar Rp. 600.000 bagi setiap mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menyimpan banyak persoalan terutama dibirokrat Fakultas Sains dan Teknologi.&lt;br /&gt;Pelaksanaan program DPP di Fakultas Sains dan Teknologi selama kurang lebih  4 tahun terlihat suram dan tidak maksimal serta tidak adanya perencanaan konsep yang matang sehingga akan mengubah fungsi DPP yang seharusnya untuk mahasiswa malah menjadi dana liar yang layak diperebutkan oleh orang-orang yang tidak berwenang. Asumsi itu diperkuat dengan tidak adanya pola manajerial yang jelas dalam mengelola dana dari mahasiswa yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah itu. Apalagi dalam hal perencanaan dan pelaksanaan program DPP, selalu diikuti dengan cara komunikasi antar person yang terkesan mengesampingkan mahasiswa. Padahal pihak Fakultas sudah berjanji bahwa DPP nantinya akan dikembalikan kepada mahasiswa dalam bentuk kegiatan yang bersifat pengembangan akademik, sehingga seharusnya setiap mahasiswa bisa menikmati kegiatan tersebut dan harus benar-benar terakomodasi. Tapi relaitas yang terjadi, semua kegiatan yang dijanjikan selama ini terkesan palsu, artinya legalisasi komersialisasi pendidikan telah terbukti di birokrat Fakultas Sains dan Teknologi.&lt;br /&gt;Sekarang kita renungkan bersama, apakah DPP terealisasi? Adakah program DPP yang sudah terlaksana? Tahukah anda berapa jumlah seluruh dana DPP yang terkumpul?  Kemanakah dana DPP mengalir? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang butuh di jawab oleh birokrat kampus Fakultas Sains dan Teknologi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap mahasiswa. &lt;br /&gt;Menyikapi konsep DPP yang semrawut itu sungguh sudah terlalu munafik para birokrasi Fakultas Sains dan Teknologi tidak bisa merealisasikan program DPP yang berjumlah ratusan juta rupiah itu. Kenapa harus di wajibkan membayar DPP kalau tidak ada program DPP yang berkualitas ?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2503525351743944375-1458362501785337998?l=www.cocomorales.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.cocomorales.co.cc/feeds/1458362501785337998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2503525351743944375&amp;postID=1458362501785337998' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/1458362501785337998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/1458362501785337998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.cocomorales.co.cc/2008/04/realisasi-dana-dpp-perlu-di-kritisi.html' title='REALISASI DANA DPP PERLU DI KRITISI'/><author><name>manusia pemberontak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15082374208027821443</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TQhGqQNiP-s/S0qF5g9dMKI/AAAAAAAAADc/KDEfGEs0LyY/S220/Picture+002.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2503525351743944375.post-4591925443329436606</id><published>2008-04-06T06:30:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T17:46:33.015-07:00</updated><title type='text'>ADA APA DENGAN LEMBAGA INTRA?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kurang lebih empat tahun konversi IAIN menjadi UIN telah berlangsung, selalu mengalami metamerfosa seperti kepongpong yang dulunya putih tanpa dosa-dosa besar sekarang seakan ingin menjadi kupu-kupu yang selalu terbang dan akan hinggap disetiap tempat yang penuh dengan madu. Begitulah perumpamaan birokrat kampus yang saat ini hati nuraninya telah terbunuh oleh fatamorgana kekuasaan. Sindrom konversi IAIN menjadi UIN tahun 2004 telah merubah sekian hal karakteristik kampus UIN yang dulunya mempunyai jargon kampus putih kampus perlawanan sekarang seakan tertutup oleh tabir raksasa yang mengungkung ruang gerak mahasiswa yang selalu meneriakkan kata perlawanan terhadap kebijakan kampus yang tidak memihak terhadap kepentingan mahasiswa yang sekarang mengalir di dalam pembuluh nadi Fakultas Sains &amp;amp; Teknologi. Sampai detik ini jarang sekali atau bahkan tidak ada lagi nuansa-nuansa romantisme perlawanan yang diteriakkan dikampus yang sekarang sekelas dengan kampus-kampus elit lainnya. Apakah hal itu disebabkan karena adanya perubahan zaman yang semakin modern sehingga menimbulkan sikap hedonis pada setiap kalangan mahasiswa dan akhirnya terkonstruk sebuah karaktek yang tidak kritis dan tidak humanis? atau akibat dari kebijakan kampus yang selalu membuat mahasiswa bertekuk lutut seperti  menyerahnya tentara jepang terhadap tentara sekutu akibat nuklir ? Apakah benar mahasiswa sekarang sedang mengalami degradasi dan akan kalah? Terbukti geliat perlawanan mahasiswa mulai kehilangan taringnya karena lupa akan peran dan fungsi mahasiswa sebagai kekuatan yang tak pernah terkalahkan oleh rezim siapapun untuk melakukan bentuk perubahan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Pemberlakuan absensi 75% oleh birokrat kampus Fakultas Sains dan Teknologi serta adanya controling birokrasi Dekanat terhadap sikap kritisisme mahasiswa menjadi wujud dari otoriterisme birokrat yang ingin membungkam siapapun yang berani melawan sekian kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa serta adanya dana DPP yang berjumlah ratusan juta rupiah yang seharusnya hak mahasiswa justru di handle oleh birokrat yang tidak jelas arahnya menjadi bukti bahwa birokrat Fakultas Sains dan Teknologi perlu dibenahi dan dikritisi secara analitis.&lt;br /&gt;Disayangkan bersama kemudian mahasiswa seakan tidak memilki tenaga dalam mendorong dan menolak kebijakan birokrasi Dekanat kampus. Kekuatan lembaga intra (BEM-J, BEM-F &amp;amp; SEMA-F) seakan mengalami kemandulan dan kebuntuan gerakan. Sudah saatnya kedaulatan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi dimaterialisasikan dalam wujud nyata, dan instrument satu-satunya untuk melakukan itu adalah penguatan lembaga intra kampus, dalam hal ini lembaga intra harus bisa mengakomodir dan selalu berani untuk mengambil resiko demi terciptanya kedaulatan ditangan mahasiswa.&lt;br /&gt;Rekonsolidasi dan revitalisasi perbaikan secara total atas sistem operasional lembaga intra kampus terutama dalam proses menciptakan kedaulatan mahasiswa dengan keberanian dari lembaga intra sebagai pemegang garis komando di depan menjadi pengejawantahan yang tak bisa ditawar lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2503525351743944375-4591925443329436606?l=www.cocomorales.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.cocomorales.co.cc/feeds/4591925443329436606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2503525351743944375&amp;postID=4591925443329436606' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/4591925443329436606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/4591925443329436606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.cocomorales.co.cc/2008/04/ada-apa-dengan-lembaga-intra.html' title='ADA APA DENGAN LEMBAGA INTRA?'/><author><name>manusia pemberontak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15082374208027821443</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TQhGqQNiP-s/S0qF5g9dMKI/AAAAAAAAADc/KDEfGEs0LyY/S220/Picture+002.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2503525351743944375.post-6105279991434465725</id><published>2008-03-14T02:00:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T01:13:40.194-07:00</updated><title type='text'>ADANYA SISTEM PENDIDIKAN YANG TIDAK SEIMBANG</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;…..Engkau sarjana muda resah tak dapat kerja tak berguna ijazahmu, empat tahun lamanya berkelut dengan buku sia-sia semuanya……( Sarjana Muda, Iwan Fals )&lt;br /&gt;Begitulah syair lagu Iwan Fals yang menggambarkan tentang fenomena seorang sarjana muda yang pontang-panting demi mendapatkan pekerjaan yang diinginkan agar tidak menyandang gelar pengangguran intelektual . Itu menandakan bahwa kegelisahan seorang sarjana untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang didambakan sudah dirasakan sejak zaman dulu. Pengangguran intelektual di Indonesia diperkirakan cenderung mengalami lonjakan dan mencapai titik yang mengkhawatirkan. Pada tahun 1995 diperkirakan angka pengangguran intelektual mencapai 12,36 %, kemudian pada tahun 1995 angka pengangguran intelektual mengalami kenaikan menjadi 18,55% dan pada tahun 2003 meningkat lagi mencapai 24,5%.&lt;br /&gt;Secara umum ada beberapa aspek yang mempengaruhi kenapa banyak pengangguran di Indonesia yang menyandang gelar sarjana. Yang pertama pengangguran intelektual sangat dipengaruhi oleh dunia pendidikan di Indonesia yang tidak mampu menghasilkan out put sarjana (tenaga kerja) yang berkualitas yang sesuai dengan keinginan pasar sehingga secara otomatis tenaga kerja terdidik di Indonesia akan kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Fenomena inilah yang menjadi masalah yang kompleks di negara kita saat ini, dimana tenaga kerja terdidik banyak yang menganggur padahal menyandang gelar sarjana. Meskipun angka pengangguran yang mempunyai gelar sarjana cenderung meningkat, namun upaya pemerataan pendidikan baik SLTA maupun Perguruan Tinggi harus dilakukan tanpa mengabaikan mutu pendidikan agar mampu meghasilkan out put yang menpunyai daya saing tinggi. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang bisa memupuk profesionalisme seseorang dalam bekerja dan berkarier. Saya melihat ada kelemahan dalam sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Pendidikan di Indonesia cenderung mengutamakan segi teori tanpa diimbangi dengan praktek. Fungsi dari praktek tersebut adalah mengaplikasikan semua bentuk teori dalam bentuk kerja nyata atau skill. Karena bagaimanapun juga teori tanpa praktek tidak akan menghasilkan sesuatu yang riil dan praktek tersebut sebagai penentu apakah seorang peserta didik tersebut berhasil dalam proses belajar di perguruan tingginya dan bisa bersaing dengan tenaga kerja lainya. Di negara maju justru mengedepankan praktek tanpa mengabaikan teori, karena menurut mereka teori hanya sebagai penunjang dalam proses belajar dan praktek adalah hal utama yang diprioritaskan karena hal itu sangat mempengaruhi skill seseorang dalam menghadapi dunia kerja. Di negara barat teori juga diberikan dengan metode yang menarik dan kreatif. Berbeda dengan di Indonesia, kebanyakan peserta didik mempunyai kebiasaan menghafal untuk bidang tertentu seperti ilmu-ilmu sosial dan sejarah dan ironisnya peserta didik hanya menerima teori itu tanpa menggali wawasan yang lebih luas dalam menganalisis masalah dan hakekat ilmu tersebut. Sedangkan dalam ilmu pengetahuan alam (sains) biasanya peserta didik hanya diberikan latihan soal-soal dengan rumus/konsep yang sudah ditentukan tanpa menganalisis dari mana asal rumus/konsep tersebut. Fenomena inilah yang memyebabkan sumber daya manusia kita kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara maju, menguasai teori tapi gagal dalam praktek.&lt;br /&gt;Yang kedua, kebanyakan sarjana kita merasa bangga dengan gelar yang mereka sandang tetapi tidak melihat sejauh mana kualitas gelar tersebut bisa bersaing di dunia kerja. Hal Ini akan menyebabkan munculnya sarjana pengangguran karena mereka belum siap dihadapkan dengan dunia kerja akibat tidak tahu prospek dan masa depan gelar mereka tersebut. Jadi selain mengandalkan gelar sarjananya, mereka harus bisa aktif &amp;amp; kreatif sehingga bisa membaca peluang dalam dunia kerja.&lt;br /&gt;Yang ketiga, faktor gengsi saat ini masih menjadi penyakit bagi para sarjana untuk melakukan sebuah pekerjaan karena merasa tidak sesuai dengan tingkat pendidikan yang mereka tempuh. Hal ini juga menyebabkan pengangguran di Indonesia terus meningkat. Seandainya malu atau gengsi bisa dihilangkan kemungkinan pengangguran di Negara kita bisa ditekan. Bekerja sesuai dengan jurusan kita memang bagus dan itu yang kita harapkan, tetapi tidak harus menjadi karyawan atau pegawai negeri, masih banyak jalan lain menuju kesuksesan. Intinya janganlah jadikan gengsi penyebab pengangguran dan janganlah berfikiran sempit bahwa sekolah ataupun kuliah itu semata-mata demi pekerjaan karena pada hakekatnya tujuan sekolah atau kuliah adalah mencari ilmu sebagai media untuk mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOKO ASTOWO PUTRO&lt;br /&gt;Jurusan Kimia&lt;br /&gt;Fakultas Sains &amp;amp; Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta&lt;br /&gt;Anggota Ikatan Mahasiswa Alumni Futuhiyyah Yogyakarta (IMAFTA)&lt;br /&gt;Phone : 081392488789 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2503525351743944375-6105279991434465725?l=www.cocomorales.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.cocomorales.co.cc/feeds/6105279991434465725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2503525351743944375&amp;postID=6105279991434465725' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/6105279991434465725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2503525351743944375/posts/default/6105279991434465725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.cocomorales.co.cc/2008/03/adanya-sistem-pendidikan-yang-tidak.html' title='ADANYA SISTEM PENDIDIKAN YANG TIDAK SEIMBANG'/><author><name>manusia pemberontak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15082374208027821443</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_TQhGqQNiP-s/S0qF5g9dMKI/AAAAAAAAADc/KDEfGEs0LyY/S220/Picture+002.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
